Rabu, 06 Maret 2013

INI BUKAN PELIT....TAPI CERDAS!!! #3


Trick Mencuci di Hotel

Jika suatu kali anda diharuskan mencuci salah satu barang bawaan, misalnya underwear atau t-shirt. Jangan gunakan jasa laundry. Muahalllll. Saran saya, gunakan bak wastafel sebagai wadah perendaman terlebih dahulu. Setelah itu, jika kamar mandi hotel yang ditempati memiliki dryer, gunakan ia untuk mengeringkan cucian tersebut. Jika tidak ada, peras sekuat-kuatnya lalu gantung dengan memanfaatkan hanger di lemari. Curang ya….ahh, gak peduli yang penting gak ngluarin biaya laundry. :p

Selasa, 05 Maret 2013

Pemko Banda Aceh, Becandanya Kebangetan Deh iih!

(credit photo; arie yamani)

Sesuatu yang terlihat biasa-biasa saja oleh warga setempat bisa saja menjadi sesuatu yang luar biasa dan unik bagi para pendatang. Atau……sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh warga lokal, bisa menjadi bahan pembicaraan serius oleh kaum pendatang. Setuju gak? Setuju dong ya. #maksa!

Situasi seperti diatas baru-baru ini terjadi pada diri saya. Pada saat keluar gerbang pelabuhan ferry Ulee Lheue menuju pusat kota Banda Aceh, teman dari Medan yang saya dampingi selama “pusing-pusing” di Pulau Weh menunjuk rambu petunjuk dengan ukuran cukup besar berwarna dasar hijau terang yang berdiri tinggi dan kokoh berlandaskan pinggir trotoar jalan Ulee Lheue-Banda Aceh.

Awalnya sih gak ada yang istimewa pada rambu petunjuk tersebut. Seperti lazimnya rambu-rambu petunjuk yang memberikan keterangan kepada pengemudi atau pemakai jalan lainnya, tentang arah yang harus ditempuh atau letak kota yang akan dituju lengkap dengan nama dan arah letak itu berada. Sampai akhirnya teman saya ngomong “kok jarak Museum Tsunami sampai  satu kilometer jauhnya dari tugu Replika Pesawat Seulawah?

Nah lho, saya baru sadar ternyata jarak yang tercetak pada rambu petunjuk tersebut beberapa memang tidak bisa dijadikan patokan. Wajar jika teman saya mempertanyakan karena sebelumnya ia sudah mengunjungi Museum Tsunami dan melihat dari dekat Replika Pesawat Seulawah RI-1 yang kalau diukur jaraknya kurang dari 300 meter.




Mari sama-sama kita lihat foto diatas.  Semua jarak yang tercantum pada rambu petunjuk tersebut diawali dari pelabuhan ferry Ulee Lheue. Mungkin benar jarak dari Ulee Lheue ke Mesjid Raya Banda Aceh sejauh 7.3 km atau jarak ke Kuburan Massal Korban Tsunami hanya 1.7 km. Tapi coba lihat jarak antara Museum Tsunami dengan Replika Pesawat Seulawah RI-1 sampai 1 km jauhnya (5.8 km dikurangi 4.8 km). Gak masuk diakal.  Padahal, kalau kita berdiri di depan pintu masuk halaman Museum tsunami lalu menghadaplah ke lapangan Blang Padang kemudian arahkan pandangan ke sisi kiri maka kita bisa melihat tugu pesawat tersebut dengan jelas berdiri kokoh masuk dalam kawasan lapangan Blang Padang.

Malah – masih berpatokan pada rambu petunjuk diatas – Kapal PLTD Apung hanya berjarak 700 meter dari Museum Tsunami dan hanya 300 meter dari Replika Pesawat Seulawah.
Bingung kan? Hahahaaaaaa…. Saya aja bingung!  Karena kenyataannya, Museum Tsunami lebih dekat dengan Replika Pesawat Seulawah RI-1 ketimbang Kapal PLTD Apung.

Jangan dipikir cuma ada satu rambu petunjuk yang “salah ketik”. Masih di jalan yang sama, sekitar 2 kilometer lepas pelabuhan Ulee Lheue menuju Banda Aceh ada rambu petunjuk lain yang tidak bisa dijadikan “petunjuk” bagi para pendatang. Malah yang ini lebih parah lagi. Jarak antara Replika Pesawat Seulawah RI-1 dengan Museum Tsunami terpaut sejauh 1.3 km. Duh, konyolnya kelewatan banget deh ihh Pemerintah Kota Banda Aceh.


Terkadang kita tidak habis pikir dengan cara kerja para birokrat, untuk hal-hal sepele seperti ini saja mereka masih salah dan kesalahan mereka dikritisi oleh para pendatang yang lebih jeli melihat sesuatu yang terkadang kita abaikan. Bukankah anggaran untuk "proyek" seperti ini cukup besar sudah seharusnya diimbangi dengan hasil yang optimal tanpa cacat.

Kalau sudah begini saya cuma bisa membathin......Sesungguhnya, hanya Tuhan dan instansi berkompeten di Pemko Banda Aceh yang tahu jarak manakah yang benar. 




Senin, 04 Maret 2013

INI BUKAN PELIT....TAPI CERDAS!!! #2 (KHUSUS BACKPACKERS)


(photo credit; Song Boon Chong & Me)

Masih mau yang gratisan tapi berkualitas? Modalnya cuma persiapan fisik harus fit dan tentunya mengerti bahasa inggris.

Nah, Jika sekali waktu mengunjungi Kuala Lumpur sempatkan ikut program “Heritage Walk” nya Central Market. Caranya gimana? Anda cukup datang ke Central Market atau Pasar Seni yang terletak di jalan Hang Kasturi (dari KL Sentral naik Rapid KL lalu turun di stasiun Pasar Seni, dari situ anda cukup berjalan kaki ke Central Market).  Sampai di dalam gedung bagian depan, tanyakan pada petugas resepsionis jam berapa program Heritage Walk dimulai. Biasanya pada jam 10.30 pagi atau menunggu sampai terkumpul beberapa orang pelancong.

Berdasarkan catatan sejarah, Central Market berdiri pada 1888. Awalnya adalah wet market/pasar tradisional (mirip-mirip pasar Peunayong kali ya?) yang memperdagangkan ikan, daging dan sayur-sayuran segar. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan kota, di sekitar tahun 1930-an konstruksinya dibangun lebih permanen dengan langgam art deco seperti yang bisa kita lihat pada facadenya sampai saat ini. Menjelang akhir 1970-an bangunan ini hampir saja dihancurkan. Untungnya masih ada campur tangan dari Malaysia Heritage Society, sehingga pemerintah mengalokasikan dana khusus untuk renovasi bangunan ini hingga akhirnya dibuka kembali pada tahun 1986. Kini, Central Market merupakan pusat budaya, seni dan kerajinan Malaysia yang sangat direkomendasikan untuk dikunjungi.

Gedung lama dengan gaya art deco dibuka setiap harinya dari jam 10 pagi hingga 9.30 malam sekaligus menjadi titik awal dan akhir dari jalan-jalan mengenal cikal bakal Kuala Lumpur, sejarah dan arsitekturnya yang masih terjaga.
Seandainya ditarik garis lurus, program jalan kaki gratis ini memakan waktu sekitar 2 jam lamanya dan jarak sekitar 2 kilometer lebih. Namun, Jarak sejauh itu tidak terasa melelahkan karena penjelasan dari tour guide sangatlah menarik dan bersemangat.  Setiap penjelasan menggunakan bahasa Inggris dengan dialek melayu-cina, soalnya tour guide saat itu seorang wanita cina Malaysia usia menjelang 40 tahun. 

Oh ya, pada saat mengikuti heritage walk jangan lupa sediakan kacamata biar kalau difoto, anda kelihatan lebih keren. Kalau cuaca panas siapkan sunblock juga biar kulit kelihatan lebih kencang....iihhh apa hubungannya lageee. Satu lagi, sediakan air minum kemasan ntar kalau haus anda tidak perlu bela-belain minum air kran di tempat wudhu mesjid Jamek. Hahahaahaaaa

Program ini akan membawa  kita berkeliling kawasan Market Square (posisinya diapit oleh kawasan Merdeka Square dan China Town) yang meliputi Central Market itu sendiri, toko-toko tua di jalan Hang Kasturi, Sze Ya Temple, beberapa bank yang menempati bangunan lama yang tentunya masih terawat dengan baik, Jalan Tun H.S. Lee tempat dimana dulunya merupakan wilayah pendatang dari India.

Rombongan juga diajak mengelilingi Mesjid Jamek meskipun lokasi masjid ini masuk dalam wilayah Merdeka Square karena ternyata masjid dengan dinding bata merah berarsitektur Mogul ini memiliki peranan penting dalam sejarah dan perkembangan Kota Kuala Lumpur.

Pfuiihh….lelah namun menyenangkan melihat bagaimana negara tetangga merawat dan melestarikan dengan sangat baik serta terencana, kawasan-kawasan heritage mereka yang akhirnya dikemas secara professional kedalam program-program wisata yang ditawarkan kepada para turis lokal maupun internasional. Gratis lagi :) 




Sabtu, 02 Maret 2013

Kalau Mau Bersih Jangan Berharap Pada Petugas Kebersihan Saja!



Banda Aceh menurut saya termasuk kategori kota yang bersih. Tapiiiiiiiii..... itu karena kerja maksimal petugas kebersihan. Trus anda bangga gitu? Gak perlu lah ya. Anda baru boleh berbangga kalau Banda Aceh ini bersih karena adanya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan.

Secara pribadi saya sangat mengapresiasi kinerja petugas kebersihan tapi tidak untuk masyarakat kota Banda Aceh itu sendiri. Lho? Iya dong, masyarakat kita itu jauh dari disiplin membuang sampah di tempat yang sudah disediakan. Kontradiktif sekali.

Mau bukti? Pernah sekali waktu di seputaran Neusu, saya melihat bocah perempuan membuang sampah kemasan makanan instant dari dalam sebuah mobil mewah. Mobil mewah pastilah isinya keluarga berpunya…….punya mobil maksudnya tapi gak punya otak. Dan kejadian seperti ini bukan sekali saja saya saksikan.

Kebayang gak sih gimana cara mendidik ala orang tua “berpunya” tersebut terhadap anak-anaknya? Sampai tega melempar bekas kemasan snack ke jalan raya disaat mobil sedang melaju dan ada banyak kendaraan lain dibelakangnya. Pfuuih, contoh yang gak boleh ditiru. Don’t try this wherever you are.

Kasus lain. Setiap selesai sebuah event besar di Taman Sari maka kita bisa menyaksikan sampah bertebaran. Pengunjung “menitipkan” sampah dimana saja mereka suka. Padahal, kalo kita mau meluangkan waktu sedikit saja untuk berjalan kaki, ada banyak tempat sampah mengitari taman yang terletak di depan Kantor Walikota ini. Lagi-lagi dalihnya “Ada petugas kebersihan kok”. Gubrak tuing tuing!!!

Contoh yang lain lagi, perhatikan Pasar Aceh, kawasan Peunayong atau ruas jalan utama di kota Banda Aceh serta pemukiman penduduk pada hari pertama lebaran (Idul Fitri dan Idul Adha) disaat petugas kebersihan tidak bekerja. Maka sampah berserakan dimana-mana terutama di depan Pasar Aceh dan bau menyengat disekitar perumahan.
Karena itu saya berani bertaruh, jika beberapa hari saja petugas kebersihan tidak bekerja maka Banda Aceh bukanlah tempat yang layak dan nyaman buat dikunjungi.

Masih mau kasus lainnya? Nih, saat anda ngopi di café, mendekati tengah malam coba perhatikan lantai café yang anda tongkrongin. Sampah puntung rokok disertai abunya bertebaran dilantai café. Padahal disetiap meja sudah disediakan asbak. Para perokok benar-benar menerapkan prinsip “asbak seluas lantai”. Ini yang membuat saya makin percaya bahwa “perokok itu jorok”.  

Tapi yang paling tragis buat saya adalah suasana lapangan Blang Padang dan lapangan terbuka lainnya selepas sholat idul fitri. Dalam hitungan kurang dari satu jam, lapangan berubah menjadi lautan sampah koran.
Jamaah yang baru selesai beribadah menganggap sampah koran itu nantinya akan menghasilkan uang buat pemulung. Hallooooo……bapak, ibu, agam, inong mikir dong kalau ngomong, pemulung sekarang juga milih-milih apa yang akan mereka pungut untuk dijadikan uang. Mereka gak akan mau mengambil koran yang basah akibat tertimpa sajadah diatas rumput, lecek dan sudah koyak. Sadar atau tidak, sebenarnya anda sedang melecehkan Tuhan lho. Gimana gak melecehkan coba, anda beribadah dalam keadaan bersih (karena sebelumnya diharuskan berwudhu’) namun selepas ibadah anda melalaikan begitu saja nilai agama dalam menjaga kebersihan hanya karena berharap akan ada orang lain yang akan membersihkan atau memungutnya.
Bukankah kebersihan itu sebagian dari iman? Seharusnya ia tidak menjadi jargon belaka. 


Saya jadi ingat ucapan seorang teman “Pahala dan dosa itu kita sendiri yang tentukan”. Wahhh dalam banget nih kalimat. Heheheee. Maksudnya begini, kalau anda membuang sampah sembarangan karena nantinya anda merasa sudah “berbuat baik” memberi pekerjaan kepada petugas kebersihan atau pemulung yang akan memungutnya, anda salah besar. Anda jauh lebih baik jika meringankan pekerjaan mereka. Tidak ada salahnya menyimpan bungkus permen di kantong celana atau genggam saja dulu bungkus plastic sampai anda menemukan tempat yang pantas untuk membuangnya. Toh, sikap anda untuk ikut andil menjaga kebersihan juga berdampak baik bagi lingkungan dan diri anda sendiri.

Sudah cukup banyak bencana akibat sampah di Indonesia. Jakarta adalah salah satu contoh terbaru, bagaimana sebuah ibukota negara (malu-maluin banget sih sebenarnya) bisa membunuh warganya gara-gara sampah yang menggunung di kali ciliwung dan pada akhirnya tak mampu menampung debit air yang datang dari kota Bogor pada saat musim hujan.

Belum lagi jika dikaitkan dengan industri pariwisata, sebagus atau seindah apapun destinasi wisata yang ditawarkan tapi jika kotor, bau dan banyak lalat yang beterbangan, pelancong akan berpikir dua kali untuk kembali mengunjungi tempat tersebut.

Ayolah….untuk urusan sampah jangan terlalu bergantung dengan kerja petugas kebersihan dong. Kalau bisa meringankan kerja mereka kenapa harus membuang sampah sembarangan? Dan reward dari Allah juga menanti kita lho.