Jumat, 18 Juli 2014

Dari Sini Petualangan Dimulai

Backpacking bareng Ale kali ini semuanya serba mendadak. Akhir Mei, tiba-tiba saja ia menelpon dan menanyakan kesiapan untuk “bertualang” ke 3 negara; Singapura, Malaysia dan Thailand (meski akhirnya Singapura di skip dengan pertimbangan selain sudah pernah dikunjungi, negara pulau ini tidak begitu menantang untuk backpacker seperti kami). 

Secara finansial –apalagi untuk perjalanan 11 hari- tentu saja aku belum siap. Dadakan sih. Namun Ale memberi banyak kemudahan untuk hal “penting” tersebut. Dan akhirnya kami sepakat tanggal berapa aku sudah harus tiba di Kuala Lumpur sebagai kota transit mengawali petualangan kami. Perjalanan ini juga awalnya direncanakan menggunakan kereta api sebagai pilihan utama transportasi menuju beberapa destinasi menarik di Thailand.

8 Juni 2014. Pukul 1: 35 siang waktu Malaysia. AirAsia yang kutumpangi dari Medan mendarat mulus di KLIA2, sebuah airport yang baru saja dioperasikan sejak diresmikan 9 Mei 2014 lalu. Terminal baru ini sekaligus menandakan sebuah babak baru pelayanan prima AirAsia bagi kepuasan pelanggan mereka. 

Warna putih mendominasi tampilan second skin bangunan modern dengan desain futuristic. Dua kata untuk airport baru,  nyaman dan berkelas. Meski penumpang pesawat harus berjalan kaki agak jauh dan harus naik satu escalator yang cukup tinggi untuk tiba di counter imigrasi. Namun berada di disini membuat kita seakan lupa jika sedang berada dalam terminal sebuah airport, banyak penumpang mengakui mereka seperti sedang berada di dalam sebuah mall modern. Aku setuju dan sangat menikmatinya. 

Beberapa tahun belakangan, Kuala Lumpur amatlah familiar bagi ku. Ada banyak teman disini. Namun kali ini, negara semenanjung ini hanya sebagai negara transit, kedatangan sekaligus kepulangan ke Indonesia. Malaysia tak perlulah aku ceritakan lagi, bagaimana kesiapan negara berpenduduk 30 juta jiwa ini menyambut para turis. Mulai dari infrastruktur yang luar biasa bagus, pilihan moda transportasi massal yang nyaman dan tepat waktu, akomodasi berkelas hingga budget hotel yang bersih dan destinasi wisata dengan kemasan yang sangat-sangat menarik. Dan tentu saja Kuala Lumpur sangat memanjakan lidah para pecinta kuliner dari seluruh dunia. Itu sebabnya, setiap tahun mereka mampu mendatangkan turis hampir sama banyak dengan jumlah penduduknya.

Beberapa hari sebelum tiba di Kuala Lumpur, aku telah membuat janji bertemu keluarga Bang Azri dan Masra Yahya, pasangan yang sudah memiliki 3 orang anak yang cukup akrab dengan ku. Hal yang paling membahagiakan saat bertemu budak-budak (anak-anak) itu adalah ketika mereka memanggilku “Abang Arie”. Bukankah seharusnya mereka memanggilku "uncle". Tapi ya sudahlah, mungkin mereka merasa wajahku gak jauh beda sama wajah mereka. Eiittsss, jangan protes!. 

Janji berjumpa Keluarga ini di KLIA2 terlaksana juga, mereka memberikan 2 buah buku best seller Malaysia. Aku Ingin Kembara Lagi dan Cerita Cinta Ahmad Ammar. Judul terakhir adalah buku yang sudah lama aku niatkan untuk dibeli jika ada di KL. Alhamdulillah, akhirnya dapat gratis. Terima kasih.

Menjelang sore, Ale yang sudah berada di Kuala Lumpur sejak tanggal 6 Juni menyusul ketibaan ku di KLIA2. Begitu melewati pintu arriving hall ……jreng jreng, disinilah petualangan 11 hari 10 malam dimulai. Hal selanjutnya yang dilakukan adalah harus segera keluar dari gedung ini. Sudah tak tahan karena aroma petualangan sudah menyebar dan tercium dimana-mana. Aha.

Begitu turun ke lantai dasar KLIA2, kami menemukan loket Aerobus Express. Tanya-tanya sesaat, setelah itu langsung membayar 10 Ringgit untuk setiap orang. Tujuannya tentu saja KL Sentral. Lalu kami mengikuti beberapa penumpang lain ke luar gedung menunggu bus berangkat di platform A5. Sekitar jam 8 malam bus berhenti di KL Sentral, tanpa pikir panjang lagi langsung berlari menuju lantai atas KL Sentral untuk memesan tiket kereta api jurusan Hatyai, Thailand.

Tiba di loket reservasi, bukan kabar baik yang di dapat. Seluruh tiket kereta api tujuan ke beberapa kota di Thailand sold out sampai tanggal 16 Juni. Begitu juga dengan kota-kota penghubung /hub menuju Thailand yang ada di Malaysia seperti Butterworth. Ternyata kedatangan kami bertepatan dengan libur sekolah di seluruh Malaysia.  Huwaaaaaaa….gagal deh rencana overland dengan kereta api!

Tak kehilangan akal, kami turun ke lantai bawah KL Sentral mencari LRT tujuan terminal bus Pudu. Tiba di Pudu sudah agak larut, baru sadar ternyata belum makan malam.  Kami rehat sekaligus makan "larut" malam di kaki lima samping 7 eleven diseberang Terminal Pudu.

Urusan perut selesai, bergegas balik ke gedung terminal bus Pudu untuk hunting tiket. Lampu-lampu di hampir semua loket yang berjajar di dalam terminal bus Pudu masih terang benderang meski sudah hampir jam 11 malam. Wajah para petugas loket masih terlihat ramah. pertanda mereka masih menawarkan perjalanan dengan tujuan kota-kota di Malaysia (kecuali kota-kota di Malaysia Timur) dan beberapa kota di Thailand. Beberapa petugas penghubung loket berbicara melalui handy talkie kepada petugas bus diluar terminal. Ada kesibukan dimana-mana. Tapi malam itu, lagi-lagi kami kecewa. Tujuan ke Hatyai hampir semuanya full. Hanya ada beberapa bus yang masih tersisa satu kursi. Jelas gak mungkin.  Kalaupun ada 2 kursi tersisa, mereka memberi harga yang cukup tinggi. Ogah ah.

Akhirnya aku dan Ale memutuskan mencari bus tujuan Hatyai di luar gedung terminal.  Disudut antara jalan Pudu dan jalan Tun Tan Cheng Lock. Dibawah langit malam dan diantara riuh rendah suara mesin kendaraan, kami bergabung dengan para traveler yang akan mewujudkan perjalanan mereka. Bukan hanya orang-orang muda, banyak juga keluarga muda mengikutkan anak-anak mereka menunggu bus untuk perjalanan malam itu. Beruntungnya, sebagian besar dari mereka telah memiliki tiket. Nah, kami berdua jauh-jauh dari Indonesia cuma bermodalkan untung-untungan. Dapat tiket bus ke Hatyai, untung. Kalau gak dapat, yaaahhhh itu namanya belum rezeki. #mencoba berjiwa besar. Hahahaaaa.

Beberapa kali aku mendekati bus yang sedang menaikkan penumpang tujuan Hatyai, menanyakan apakah masih ada seat kosong untuk 2 orang. Semua melambaikan tangan atau menggelengkan kepala sebagai tanda tak ada kursi kosong. Duh, perasaan saat itu benar-benar seperti pencari kerja yang berkali-kali ditolak oleh pemilik perusahaan. Huwaaaaaaa…..nangis!

Lho, anak cowok gak boleh nangis. Yang sabar eeaaaaaa *mendadak alay. Eh, benar saja apa kata orang-orang, sabar itu emang buahnya manis. Lewat pukul 12 malam, ada satu bus tingkat jurusan Hatyai yang mengizinkan kami ikut mereka -mungkin kondekturnya gak tega lihat tampangku yang memelas- meski penumpang sudah penuh. Meski penumpang sudah penuh? Hmmmmmm, bencana apalagi ini.

Ya, malam itu kami diizinkan ikut bus “Cepat Sedia”, tapi masuk ke ruang penyimpanan bagasi penumpang. Tidur diantara tumpukan koper para penumpang yang duduk manis ditingkat dua. Eitsss, jangan salah. Ini bukan bencana buat kami. Justru ini anugrah. Bagian bagasi sekaligus ruang tidur kondektur bus yang terletak di bawah ternyata jauh lebih nyaman. Selain AC berfungsi maksimal, kami bisa tidur sambil selonjor diatas sofa. Wuuiiiihhh, enaknya. Saking letih, aku sampai lupa mendokumentasikan ruang bagasi yang lega untuk kami berdua. Heheheeeee

Pengalaman malam pertama menuju Hatya emang melelahkan. Tapi tak mungkin juga dilupakan karena hari-hari berikutnya petualangan kami diisi oleh pengalaman lucu sekaligus menguji kesabaran. Pengalaman-pengalaman tak terduga bahkan jauh diluar prediksi. Mulai dari petugas imigrasi wanita Thailand di perbatasan yang jutek. Sama juteknya dengan pramugari bus jurusan Hatyai-Bangkok. Hmmmmm….mungkin ia lagi datang bulan atau mungkin dirumah baru saja bertengkar dengan suaminya yang ketahuan selingkuh atau mungkin ibu mertuanya merongrong untuk segera punya anak. Halahhhh, kok kayak sinetron? Lupakan!

Atau pengalaman seru lain seperti; betapa senangnya ketemu halal food restaurant di beberapa kota di Thailand, meski harus jalan kaki sampai pegal untuk tiba disitu. Berurusan di kantor polisi Yanawa di kota Bangkok gara-gara dompet. Kesalnya ditilang (saman) polisi Chiang Mai. Dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi saat mendengar orang Thailand ngomong pakai bahasa Inggris (karena itu senang sekali ketika berjumpa dengan orang-orang selatan Thailand yang paham bahasa Melayu). Supir taxi Phuket yang gemetaran karena aku marahin. Setelah itu aku merasa sangat berdosa.

Pengalaman paling berharga lainnya adalah dapat mewujudkan impian sholat di masjid Jawa di kawasan Satun, Bangkok. Hal ini diluar prediksi, ternyata Bukan hanya 1 masjid tapi ada 2 masjid bersejarah yang memiliki keterkaitan dengan Indonesia di Bangkok.  Bertemu kenalan muslim di Hatyai,  Bangkok dan Phi-Phi island. Oh ya, senangnya punya waktu untuk island hopping di kepulauan Phi Phi. Ketika ngubek-ngubek kota Bangkok dengan tuk-tuk, BTS Sky Train, bus kota hingga perahu di sungai Chao Phraya, kami menyaksikan betapa Warga kota Bangkok sangat tertib dan teratur saat menggunakan transportasi umum. Tidak ada yang main serobot. Begitupun saat antri. Pun, melihat langsung bagaimana warga kota Bangkok menghormati raja mereka.

Itu semua adalah pengalaman tak ternilai dan tak mungkin bisa dilupakan. Semuanya aku “rekam” dalam beberapa postingan di blog ini (Segera). 


Khop kun krap. Terima kasih. Selamat membaca nantinya. :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar