Jumat, 08 Agustus 2014

Island Hopping di Phi Phi Island

Setiap akan melakukan kegiatan “mengarungi lautan” selalu saja timbul rasa penasaran yang tak tertahankan. Imaji yang memenuhi isi kepala mengenai island hopping esok hari, membuat mata rasanya sulit terpejam meski malam sudah larut. Ingin rasanya pagi segera menjelang agar esok bisa segera “berlayar”. Pun rasa letih akibat perjalanan panjang selama 12 jam Bangkok – Krabi lalu dilanjutkan menyeberang dari Krabi menuju Pulau Phi Phi sepertinya tak mampu membuat mata cepat terpejam.







13 Juni 2014, aku dan Ale lagi-lagi harus bermalam dalam bus. Kami membeli tiket bus double decker seharga 680 Baht per orang. Menjelang senja bus bergerak meninggalkan Bangkok dari Terminal Bus Mo Chit 2 menuju propinsi Krabi di selatan Thailand hanya demi satu tujuan, mengunjungi Phi Phi Island. 

Esok pagi, setiba di terminal bus Banhauhin di pinggiran Krabi Town kami disambut hujan lebat dan angin kencang. Diatas sana warna langit abu-abu tua tampak flat. Pagi yang murung. Beberapa pedagang muslim -terlihat dari cara mereka berpakaian yang menutup aurat- penuh semangat menjajakan sarapan di pinggir ruang tunggu terminal. Sarapan di terminal bus tentunya menjadi pilihan terbaik. Salah satu cara menghangatkan badan sambil menyeruput kopi di pagi yang dingin sekaligus menunggu hujan reda. 


Ternyata sampai pukul 8 pagi hujan tak juga berhenti.  Perjalanan ke pelabuhan di Krabi untuk menuju pulau Phi Phi harus tetap dilanjutkan meski cuaca kurang bersahabat. Kami sepakat berangkat dengan angkutan kota yang parkir didalam area terminal -20 Baht dipatok untuk setiap penumpang- menuju Krabi town terlebih dahulu meski hujan semakin lebat. Setiba di Krabi Town perjalanan dilanjutkan naik angkutan kota jurusan Krabi - Pelabuhan dengan biaya sebesar 50 Baht per orang. Di pelabuhan, beberapa kapal dengan kapasitas sekitar 250 penumpang sudah menanti para pengunjung. Untuk menyeberang menuju Pulau Phi Phi, setiap orang dikenakan tarif sebesar 400 Baht. 



Setelah diombang-ambing oleh ombak tinggi dan angin kencang selama 105 menit serta suara derit kapal yang menakutkan bagi sebagian besar penumpang sepanjang penyeberangan, akhirnya kapal berlabuh juga di dermaga pulau Phi Phi Don, yaitu pulau terbesar di kepulauan Phi Phi. Pesona pulau ini akhirnya membuat kami  memutuskan untuk menginap selama 2 malam disini.

Kepulauan Phi Phi terdiri atas beberapa pulau seperti Phi Phi Don sebagai pulau terbesar dan memiliki banyak fasilitas pendukung wisata. Pulau kedua terbesar adalah Phi Phi Ley. Pulau ini tidak berpenghuni  namun para wisatawan diizinkan mengunjungi Phi Phi Ley dengan syarat sebelum sunset semua pengunjung sudah harus keluar pulau. Selanjutnya ada pulau Bamboo, Mosquito dan beberapa pulau-pulau kecil lainnya seperti Bida Nai dan Bida Nok.

Mengunjungi kawasan wisata yang terdiri atas beberapa pulau, tak lengkap rasanya jika tidak menjadikan island hopping sebagai agenda utama. Terakhir kali melakukan island hopping saat mengunjungi Pulau Banyak di Kabupaten Singkil, Aceh pada November 2013. Dan setelah 7 bulan berlalu, pertengahan Juni 2014, kepulauan Phi Phi island di propinsi Krabi, Thailand menjadi kegiatan “wajib” berikutnya.

Demi melampiaskan keinginan island hopping, hari kedua di Phi Phi Don kami segera  mendatangi satu  agen wisata yang menawarkan fasilitas  bagi para turis yang ingin ikut paket island hopping, Anita namanya. Anita menawarkan beberapa paket island hopping yang dapat dipilih, misalnya untuk paket setengah hari cukup membayar 500 Baht sedangkan paket sehari penuh seharga 650 Baht. Semua paket sudah termasuk peralatan snorkeling, makan siang, air mineral dan buah-buahan. dan ternyata harga paket tersebut masih bisa ditawar. heheheeee enaknya bisa hemat. Terbukti kami dapat harga 400 Baht untuk paket island hopping setengah hari.


Selesai menyerahkan biaya paket, kami dibawa ke sebuah tempat di tepi pantai tak jauh dari kawasan Ton Sai bay, sekitar 20 menit berjalan kaki dari Anita. Disini, 2 orang peserta lain sudah menanti, 1 dari China dan lainnya dari salah satu negara di Eropa.  Hari itu hanya ada 4 orang saja yang ikut paket island hopping setengah hari.

Dengan bahasa Inggris yang terkadang sulit dimengerti, si nakhoda memberi aba-aba untuk  naik ke sebuah perahu ukuran sedang yang sedari tadi menari-nari ditepi pantai. Meski berukuran sedang namun sangat lega jika hanya diisi oleh 4 orang saja. Jam 11 kapal pun bergerak. Melihat nama perahunya, Ale temanku sambil bercanda bilang “Pasti yang punya perahu ini orang Jawa.” Yuuppppp…meski tulisannya terpisah "U-RIP" nama perahu yang kami tumpangi tetap dibaca URIP. Dalam bahasa Jawa berarti hidup. :v

Bamboo Island
Bersama si U-Rip inilah kami berempat plus nakhoda perahu mengarungi sebagian laut Andaman. Perhentian pertama adalah Pulau Bamboo, sebuah pulau kecil dimana pohon-pohon bamboo tumbuh subur menghiasi sebagian pesisir. Juga gubuk-gubuk sederhana untuk beristirahat dapat dijumpai disekitar lokasi perahu ditambatkan. Begitu kapal merapat, nakhoda memberitahukan bahwa kapal hanya berhenti selama 40 menit saja dan bagi pengunjung yang ingin masuk ke pulau diharuskan membayar 100 baht kepada si nakhoda.


Tentu saja bukan tawaran yang menarik  mengingat 40 menit adalah waktu yang terlalu singkat bagi kami berdua yang suka motret. Akhirnya tak ada satupun dari peserta island hopping yang turun ke pulau Bamboo. Memotret sebagian pulau Bamboo hanya dilakukan dari atas perahu saja.

Loh Moo Dee Beach






Lewat tengah hari kapal bergerak melaju diantara ombak yang tenang menuju pantai Loh Moo Dee. Sebuah pantai pasir putih dan air yang bening. Dilepas pantainya banyak speedboat yang membawa para turis untuk snorkeling. Buat saya yang sering melakukan snorkeling di Pulau Weh, tawaran untuk snorkeling disini bukan hal yang menarik. Hampir tak ada ikan. Tapi beningnya air disini menyenangkan bagi mereka yang suka pantai.

Shark Point

15 menit meninggalkan pantai Loh Moo Dee, perahu kami melempar jangkar di lepas pantai Ton Sai Bay. Tepatnya di Shark Point. Serem juga sih kalau ingat namanya. Di lokasi yang ditenggarai sering muncul ikan hiu ini, penumpang diberi kesempatan untuk snorkeling. Disinilah aku mencoba untuk snorkeling. Semua peralatan seperti baju pelampung, snorkel dan fin sudah disediakan. Tinggal pakai langsung nyebur. Setelah nyebur, agak sedikit kecewa, tidak banyak ikan disini. Hanya ada satu atau dua jenis ikan saja yang berenang berkelompok. Tapi tak apalah, paling tidak sudah mencoba rasa asin air laut di sekitar Shark Point.

Viking Cave
Selesai snorkeling disekitar Shark Point, perahu menuju perhentian berikutnya “Viking Cave”, inilah spot pertama yang terletak di pulau Phi Phi Ley, pulau kedua terbesar di gugusan pulau Phi Phi. Viking cave adalah gua di tebing batu yang dapat dilihat dari atas perahu.  U-Rip hanya melintas disekitar area gua, tidak mencoba merapat ke dinding gua meski ada kapal lain mencoba mendekati gua Viking. Bahkan beberapa orang mencoba masuk ke dalam gua, setelah merapatkan kapal mereka pada dinding tebing yang berdekatan dengan mulut gua Viking.



Pileh Bay 
Selepas melintas Viking Cave, U-Rip perlahan mendekati area Pileh Bay. Begitu memasuki gerbang batu, yaaa…aku menyebutnya gerbang batu karena untuk masuk ke Pileh bay, perahu harus melewati satu-satunya gerbang yaitu semacam selat kecil yang diapit oleh tebing batu dikiri dan kanan kami. Setelah itu, kami disuguhi pemandangan yang sungguh indah. Subhanallah, ini lokasi yang menurut ku luar biasa tenang. Disekeliling kami hanya ada tebing batu yang dihiasi hijau tanaman yang melingkupi bukit tersebut. Refleksi tanaman yang menutupi tebing membuat air menjadi tampak biru kehijauan. Kami yang berdiri diatas perahu ditengah Pileh bay tak henti-hentinya mendesis, sebuah ungkapan rasa kagum luar biasa terhadap ciptaan Tuhan.



Tak perlu harus menunggu tawaran dari si nakhoda, dua orang peserta langsung meloncat pada air yang bening kehijauan dengan kedalaman sekitar 2 meter. Berada di Pileh Bay selama 60 menit tentulah sekejap saja. Meski sudah puluhan foto yang kuambil namun masih saja merasa belum cukup. Inshaa Allah suatu hari harus kesini lagi. Kangen suasananya. Tranquil.

Loh Samah Bay

Keluar dari Pileh Bay, perahu mengarah ke selatan memutar pulau Phi Phi Ley menuju Loh Samah Bay. Sebuah teluk dengan tebing batu yang indah. Dari sekitar Loh Samah Bay, kami dapat melihat 2 pulau kecil, Bida Nai dan Bida Nok di lepas pantai selatan Phi Phi Ley. Lagi-lagi perahu kami tidak merapat disini. Hanya melintas dan sekali memutar sebuah pulau karang kecil disekitar Loh Samah bay.

Maya Bay
U-Rip melanjutkan perjalanan memutar sisi selatan pulau mengarah ke bagian barat Phi Phi Ley menuju ke sebuah pantai yang sangat terkenal, Maya bay. Selepas pembuatan film The Beach di tahun 2000 yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio, pantai ini menjadi begitu populer. Ratusan bahkan mungkin ribuan orang setiap harinya tak ingin melewatkan kunjungan ke pantai indah berpasir putih.


Maya bay terletak di bagian barat Phi Phi Lai. Bersisian langsung dengan Laut Andaman. Itu sebabnya, ombak disini sedikit lebih ganas dibandingkan jalur laut yang kami lewati sebelumnya.  

Sebelum mencapai pantai ini, lagi-lagi si nakhoda berteriak “Maya baaaaaaaaayyyyyyy” untuk memberitahu peserta island hopping bahwa kami sedang berada disekitar pantai terkenal itu. Lalu, dia juga akan mengingatkan pengunjung yang ingin mendarat di Maya beach harus membayar 100 baht. Errrkkk…. Duit lagi duit lagi :D


Meskipun terkenal, Maya bay sama cantiknya seperti pantai-pantai tersembunyi (secret beach) yang tersebar dibanyak tempat di Indonesia. Uniknya, pantai indah ini hanya boleh dikunjungi dari pagi hingga menjelang sore atau sampai tiba waktu sunset. Setelah itu, semua pengunjung harus kembali ke lokasi asal mereka. Di sepanjang pesisir Maya beach, tidak ada satupun fasilitas pendukung wisata kecuali toilet. Pantai berpasir putih ini benar-benar terjaga kebersihannya.

Monkey Beach

Monkey beach adalah destinasi terakhir dari paket island hopping bersama si U-Rip. Jika masih bersemangat, pengunjung dapat snorkeling disini, meski sebenarnya agenda utama mengunjungi pantai ini adalah melihat dan memberi makan monyet-monyet yang serentak muncul di tepi pantai begitu melihat ada pengunjung yang datang. Itu sebabnya lokasi ini dinamakan Monkey beach. 

Sejujurnya, kegiatan island hopping itu dimana-mana sama saja. "Melompat dari satu pulau ke pulau yang lain" dengan kondisi gelombang yang terkadang sulit diprediksi. Tapi disitulah sensasinya. Namun yang membedakannya adalah keindahan landscape yang dikunjungi, fasilitas yang ditawarkan dan yang paling penting adalah melihat bagaimana pelaku yang bergerak di bidang jasa wisata air ini profesional atau tidak. Island hopping di Phi Phi island tentu saja memberi kesan yang tak terlupakan. Melihat bagaimana mereka melayani dan memberi kepuasan bagi para tamu-tamu mereka.

Jumat, 01 Agustus 2014

Halal Food di Thailand #1

Kami bukanlah Rangga, tokoh utama film 99 Cahaya di Langit Eropa. Dimana dalam salah satu scene terjadi dialog antara Rangga sebagai tokoh utama dan pelayan wanita dalam sebuah restoran di Wina, Austria. Pada menit 5:50 di film tersebut, Rangga ingin memastikan bahwa daging yang akan dibelinya adalah daging ayam yang halal.

Kami juga bukan Rangga yang harus menggerak-gerakkan kedua lengan yang ditekuk naik turun menyimbolkan kepakan seekor ayam, untuk meyakinkan bahwa daging yang dimaksud adalah daging ayam.

Bukan juga Rangga yang harus menggerakkan bentuk mulut dan hidungnya sambil mengeluarkan suara khas menyerupai suara hewan yang diharamkan oleh Islam untuk dikonsumsi, demi meyakinkan si pelayan wanita berkebangsaan Austria bahwa yang ia inginkan adalah bukan daging babi.  

Sampai akhirnya si pelayan menanyakan “Apakah anda muslim?” ketika Rangga menjawab “Ya.” Pelayan pun melanjutkan “Saya punya yang lain untuk anda.” Tak lama ia mengeluarkan buah-buahan dalam kemasan plastik sambil berujar “Ini sehat untuk anda.”


Ketika buah-buahan adalah pilihan terakhir, tentu itu jauh lebih baik untuk anda. Tapi kami tidak harus seperti Rangga ketika berada di Thailand. Di negara Gajah Putih ini dimana Islam adalah minoritas, menemukan makanan halal tidak sesulit yang dibayangkan. Cukup menyebut 2 kata kunci; halal food dan I’m a moslem. Maka banyak orang yang akan membantu anda bahkan menunjukkan dimana letak kedai makanan halal terdekat yang boleh didatangi. Meski terkadang harus menguras tenaga dengan berjalan kaki hanya untuk menemukan restoran halal ketika Google maps tidak dapat membantu. Tapi bagi kami itu adalah tantangan. Namun ketika tantangan itu dimudahkan oleh Allah, ini tentunya menjadi sebuah catatan menarik. Seperti yang kami alami selama melakukan perjalan di 6 kota di negara Thailand. 

Selama berada di Thailand, kami melakukan 6 kali perjalanan malam menggunakan bus bertingkat (decker bus). Ada dua kali bus harus berhenti di sebuah rest area untuk makan. Di Thailand, untuk sebuah perjalanan jauh menggunakan bus biasanya harga tiket sudah termasuk sekali makan malam pada salah satu restoran di rest area. Nah disinilah cerita-cerita menarik itu. Cerita tentang Tuhan yang mengirimkan beberapa warga muslim guna membantu kami menepis keraguan terhadap makanan yang disajikan, halal atau tidak.

Pada perjalanan antara Hatyai menuju Bangkok, ketika bus berhenti di sebuah rest area, tak lama hampir semua penumpang bergerak serentak menuju ke salah satu kedai makanan, Aku dan Ale masih terbengong-bengong belum tahu mau melakukan apa meski perut sudah keroncongan. Dari jarak beberapa meter, aku hanya memperhatikan para penumpang yang menuju ke sebuah restoran yang telah ditunjuk oleh pramugari bus. Sampai di depan pintu restoran, setiap penumpang memperlihatkan tiket bus ke pelayan restoran. Setelah itu pelayan akan membawa mereka ke sebuah meja. Ada sebanyak 6 kursi pada setiap meja dan diatasnya sudah tersaji hidangan untuk disantap.

Awalnya timbul rasa was-was, sebuah pertanyaan "Apakah makanan yang dihidangkan tersebut halal?" melintas di benak. Tapi nasib baik menyertai kami. Saat itu, selain kami berdua (aku dan Ale), ternyata ada 2 lelaki muslim berkebangsaan Myanmar sebagai penumpang bus yang sama. Seorang diantaranya sangat fasih berbahasa Inggris sehingga memudahkan kami berkomunikasi. Malam itu, Tuhan tak membuat aku terlalu lama menunggu jawaban dari sebuah rasa cemas yang memenuhi kepala. Karena melalui perantaraan 2 warga Myanmar itu terjawab apa yang aku risaukan. Mereka meyakinkan kami agar tak perlu was-was dengan makanan yang disajikan. 

Akhirnya kami memutuskan mengikuti 2 lelaki Myanmar tersebut. melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan penumpang yang lain, berhenti di depan pintu, menyerahkan tiket kepada pelayan lalu kami dibawa ke meja khusus untuk konsumen muslim. Aku masih ingat, larut malam itu di sebuah meja bundar pada sebuah ruangan yang terpisah dengan penumpang lainnya, ada 5 orang muslim termasuk aku dan Ale yang menyantap hidangan dengan lahap. Tak ada keraguan lagi. Maklumlah, lapar sangat.

Lain lagi cerita pada saat perjalanan antara Bangkok menuju propinsi Krabi. Ketika turun dari bus malam, masa ia berhenti di salah satu rest area, kami disambut oleh jajaran stalling makanan yang menjual nasi babi panggang, mie babi atau sate babi.  Hmmmm yummy, heheheeee.


Kondisi extreme -buat ku- seperti itu membuat kami merasa tak enak hati menanyakan makanan halal. Perasaan takut, jika ditanyakan akan membuat mereka tersinggung. Dalam keadaan tak tahu harus berbuat apapun tiba-tiba 3 perempuan berhijab melintas didepan ku. Mereka adalah warga muslim Thailand dan sepertinya mereka memang dikirim Tuhan untuk membantu kami. Aku menyapa mereka namun karena faktor bahasa, komunikasi terasa agak sulit saat itu. Aku hanya mampu mengucapkan halal food berulang-ulang kali. Sampai akhirnya, perempuan paling tua diantara mereka memberi sebuah isyarat untuk mengikutinya menuju ke restoran khusus bagi penumpang bus. 

Tiba di depan pintu masuk restoran, aku mendengar salah seorang perempuan muslim Thailand itu mengucapkan kata halal food pada pelayan. Ohhh....apa yang aku takutkan untuk diucap, itulah yang seharusnya dikatakan; “Halal food.” Tak ada alasan untuk tidak mengucapkan atau menanyakan halal food saat berada di negara mayoritas bukan islam. Lalu, kami dibawa ke satu ruangan tertutup yang agak besar dimana beberapa meja dan kursi tersusun rapi. Di ruangan itu juga terdapat sebuah freezer dua pintu serta dua buah microwave oven yang diletakkan pada sebuah meja panjang.

Ternyata mereka sudah menyiapkan makanan halal untuk konsumen muslim. Pelayan yang ditugaskan menemani kami dengan sigap mengeluarkan kemasan makanan halal yang terdiri atas nasi dan kari daging lembu dari dalam freezer, selanjutnya dimasukkan dalam microwave. Tak lama nasi dan kari yang telah dipanaskan siap untuk dimakan.


Selama trip di Thailand, sebagai muslim traveler, kami tidak menemukan kesulitan menemukan makanan atau minuman halal kemasan. Makanan dan minuman kemasan dengan label halal mudah sekali dijumpai di mini market seperti 7 Eleven. Yang dibutuhkan adalah kejelian anda sebagai pelancong muslim melihat logo halal tertera pada kemasan snack yang dijual seperti roti atau susu kotak. Biasanya snack tersebut ditumpuk bersama dengan makanan non halal. 

Trip kali ini mengajarkan kami bahwa ketika seseorang memiliki niat baik termasuk niat untuk makan hanya makanan halal selama dalam perjalanan dan teguh dalam pendirian untuk mendapatkannya, Tuhan pasti akan memudahkan jalannya. Akan ada banyak kejutan-kejutan yang indah. Percayalah.

Jumat, 18 Juli 2014

Dari Sini Petualangan Dimulai

Backpacking bareng Ale kali ini semuanya serba mendadak. Akhir Mei, tiba-tiba saja ia menelpon dan menanyakan kesiapan untuk “bertualang” ke 3 negara; Singapura, Malaysia dan Thailand (meski akhirnya Singapura di skip dengan pertimbangan selain sudah pernah dikunjungi, negara pulau ini tidak begitu menantang untuk backpacker seperti kami). 

Secara finansial –apalagi untuk perjalanan 11 hari- tentu saja aku belum siap. Dadakan sih. Namun Ale memberi banyak kemudahan untuk hal “penting” tersebut. Dan akhirnya kami sepakat tanggal berapa aku sudah harus tiba di Kuala Lumpur sebagai kota transit mengawali petualangan kami. Perjalanan ini juga awalnya direncanakan menggunakan kereta api sebagai pilihan utama transportasi menuju beberapa destinasi menarik di Thailand.

8 Juni 2014. Pukul 1: 35 siang waktu Malaysia. AirAsia yang kutumpangi dari Medan mendarat mulus di KLIA2, sebuah airport yang baru saja dioperasikan sejak diresmikan 9 Mei 2014 lalu. Terminal baru ini sekaligus menandakan sebuah babak baru pelayanan prima AirAsia bagi kepuasan pelanggan mereka. 

Warna putih mendominasi tampilan second skin bangunan modern dengan desain futuristic. Dua kata untuk airport baru,  nyaman dan berkelas. Meski penumpang pesawat harus berjalan kaki agak jauh dan harus naik satu escalator yang cukup tinggi untuk tiba di counter imigrasi. Namun berada di disini membuat kita seakan lupa jika sedang berada dalam terminal sebuah airport, banyak penumpang mengakui mereka seperti sedang berada di dalam sebuah mall modern. Aku setuju dan sangat menikmatinya. 

Beberapa tahun belakangan, Kuala Lumpur amatlah familiar bagi ku. Ada banyak teman disini. Namun kali ini, negara semenanjung ini hanya sebagai negara transit, kedatangan sekaligus kepulangan ke Indonesia. Malaysia tak perlulah aku ceritakan lagi, bagaimana kesiapan negara berpenduduk 30 juta jiwa ini menyambut para turis. Mulai dari infrastruktur yang luar biasa bagus, pilihan moda transportasi massal yang nyaman dan tepat waktu, akomodasi berkelas hingga budget hotel yang bersih dan destinasi wisata dengan kemasan yang sangat-sangat menarik. Dan tentu saja Kuala Lumpur sangat memanjakan lidah para pecinta kuliner dari seluruh dunia. Itu sebabnya, setiap tahun mereka mampu mendatangkan turis hampir sama banyak dengan jumlah penduduknya.

Beberapa hari sebelum tiba di Kuala Lumpur, aku telah membuat janji bertemu keluarga Bang Azri dan Masra Yahya, pasangan yang sudah memiliki 3 orang anak yang cukup akrab dengan ku. Hal yang paling membahagiakan saat bertemu budak-budak (anak-anak) itu adalah ketika mereka memanggilku “Abang Arie”. Bukankah seharusnya mereka memanggilku "uncle". Tapi ya sudahlah, mungkin mereka merasa wajahku gak jauh beda sama wajah mereka. Eiittsss, jangan protes!. 

Janji berjumpa Keluarga ini di KLIA2 terlaksana juga, mereka memberikan 2 buah buku best seller Malaysia. Aku Ingin Kembara Lagi dan Cerita Cinta Ahmad Ammar. Judul terakhir adalah buku yang sudah lama aku niatkan untuk dibeli jika ada di KL. Alhamdulillah, akhirnya dapat gratis. Terima kasih.

Menjelang sore, Ale yang sudah berada di Kuala Lumpur sejak tanggal 6 Juni menyusul ketibaan ku di KLIA2. Begitu melewati pintu arriving hall ……jreng jreng, disinilah petualangan 11 hari 10 malam dimulai. Hal selanjutnya yang dilakukan adalah harus segera keluar dari gedung ini. Sudah tak tahan karena aroma petualangan sudah menyebar dan tercium dimana-mana. Aha.

Begitu turun ke lantai dasar KLIA2, kami menemukan loket Aerobus Express. Tanya-tanya sesaat, setelah itu langsung membayar 10 Ringgit untuk setiap orang. Tujuannya tentu saja KL Sentral. Lalu kami mengikuti beberapa penumpang lain ke luar gedung menunggu bus berangkat di platform A5. Sekitar jam 8 malam bus berhenti di KL Sentral, tanpa pikir panjang lagi langsung berlari menuju lantai atas KL Sentral untuk memesan tiket kereta api jurusan Hatyai, Thailand.

Tiba di loket reservasi, bukan kabar baik yang di dapat. Seluruh tiket kereta api tujuan ke beberapa kota di Thailand sold out sampai tanggal 16 Juni. Begitu juga dengan kota-kota penghubung /hub menuju Thailand yang ada di Malaysia seperti Butterworth. Ternyata kedatangan kami bertepatan dengan libur sekolah di seluruh Malaysia.  Huwaaaaaaa….gagal deh rencana overland dengan kereta api!

Tak kehilangan akal, kami turun ke lantai bawah KL Sentral mencari LRT tujuan terminal bus Pudu. Tiba di Pudu sudah agak larut, baru sadar ternyata belum makan malam.  Kami rehat sekaligus makan "larut" malam di kaki lima samping 7 eleven diseberang Terminal Pudu.

Urusan perut selesai, bergegas balik ke gedung terminal bus Pudu untuk hunting tiket. Lampu-lampu di hampir semua loket yang berjajar di dalam terminal bus Pudu masih terang benderang meski sudah hampir jam 11 malam. Wajah para petugas loket masih terlihat ramah. pertanda mereka masih menawarkan perjalanan dengan tujuan kota-kota di Malaysia (kecuali kota-kota di Malaysia Timur) dan beberapa kota di Thailand. Beberapa petugas penghubung loket berbicara melalui handy talkie kepada petugas bus diluar terminal. Ada kesibukan dimana-mana. Tapi malam itu, lagi-lagi kami kecewa. Tujuan ke Hatyai hampir semuanya full. Hanya ada beberapa bus yang masih tersisa satu kursi. Jelas gak mungkin.  Kalaupun ada 2 kursi tersisa, mereka memberi harga yang cukup tinggi. Ogah ah.

Akhirnya aku dan Ale memutuskan mencari bus tujuan Hatyai di luar gedung terminal.  Disudut antara jalan Pudu dan jalan Tun Tan Cheng Lock. Dibawah langit malam dan diantara riuh rendah suara mesin kendaraan, kami bergabung dengan para traveler yang akan mewujudkan perjalanan mereka. Bukan hanya orang-orang muda, banyak juga keluarga muda mengikutkan anak-anak mereka menunggu bus untuk perjalanan malam itu. Beruntungnya, sebagian besar dari mereka telah memiliki tiket. Nah, kami berdua jauh-jauh dari Indonesia cuma bermodalkan untung-untungan. Dapat tiket bus ke Hatyai, untung. Kalau gak dapat, yaaahhhh itu namanya belum rezeki. #mencoba berjiwa besar. Hahahaaaa.

Beberapa kali aku mendekati bus yang sedang menaikkan penumpang tujuan Hatyai, menanyakan apakah masih ada seat kosong untuk 2 orang. Semua melambaikan tangan atau menggelengkan kepala sebagai tanda tak ada kursi kosong. Duh, perasaan saat itu benar-benar seperti pencari kerja yang berkali-kali ditolak oleh pemilik perusahaan. Huwaaaaaaa…..nangis!

Lho, anak cowok gak boleh nangis. Yang sabar eeaaaaaa *mendadak alay. Eh, benar saja apa kata orang-orang, sabar itu emang buahnya manis. Lewat pukul 12 malam, ada satu bus tingkat jurusan Hatyai yang mengizinkan kami ikut mereka -mungkin kondekturnya gak tega lihat tampangku yang memelas- meski penumpang sudah penuh. Meski penumpang sudah penuh? Hmmmmmm, bencana apalagi ini.

Ya, malam itu kami diizinkan ikut bus “Cepat Sedia”, tapi masuk ke ruang penyimpanan bagasi penumpang. Tidur diantara tumpukan koper para penumpang yang duduk manis ditingkat dua. Eitsss, jangan salah. Ini bukan bencana buat kami. Justru ini anugrah. Bagian bagasi sekaligus ruang tidur kondektur bus yang terletak di bawah ternyata jauh lebih nyaman. Selain AC berfungsi maksimal, kami bisa tidur sambil selonjor diatas sofa. Wuuiiiihhh, enaknya. Saking letih, aku sampai lupa mendokumentasikan ruang bagasi yang lega untuk kami berdua. Heheheeeee

Pengalaman malam pertama menuju Hatya emang melelahkan. Tapi tak mungkin juga dilupakan karena hari-hari berikutnya petualangan kami diisi oleh pengalaman lucu sekaligus menguji kesabaran. Pengalaman-pengalaman tak terduga bahkan jauh diluar prediksi. Mulai dari petugas imigrasi wanita Thailand di perbatasan yang jutek. Sama juteknya dengan pramugari bus jurusan Hatyai-Bangkok. Hmmmmm….mungkin ia lagi datang bulan atau mungkin dirumah baru saja bertengkar dengan suaminya yang ketahuan selingkuh atau mungkin ibu mertuanya merongrong untuk segera punya anak. Halahhhh, kok kayak sinetron? Lupakan!

Atau pengalaman seru lain seperti; betapa senangnya ketemu halal food restaurant di beberapa kota di Thailand, meski harus jalan kaki sampai pegal untuk tiba disitu. Berurusan di kantor polisi Yanawa di kota Bangkok gara-gara dompet. Kesalnya ditilang (saman) polisi Chiang Mai. Dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi saat mendengar orang Thailand ngomong pakai bahasa Inggris (karena itu senang sekali ketika berjumpa dengan orang-orang selatan Thailand yang paham bahasa Melayu). Supir taxi Phuket yang gemetaran karena aku marahin. Setelah itu aku merasa sangat berdosa.

Pengalaman paling berharga lainnya adalah dapat mewujudkan impian sholat di masjid Jawa di kawasan Satun, Bangkok. Hal ini diluar prediksi, ternyata Bukan hanya 1 masjid tapi ada 2 masjid bersejarah yang memiliki keterkaitan dengan Indonesia di Bangkok.  Bertemu kenalan muslim di Hatyai,  Bangkok dan Phi-Phi island. Oh ya, senangnya punya waktu untuk island hopping di kepulauan Phi Phi. Ketika ngubek-ngubek kota Bangkok dengan tuk-tuk, BTS Sky Train, bus kota hingga perahu di sungai Chao Phraya, kami menyaksikan betapa Warga kota Bangkok sangat tertib dan teratur saat menggunakan transportasi umum. Tidak ada yang main serobot. Begitupun saat antri. Pun, melihat langsung bagaimana warga kota Bangkok menghormati raja mereka.

Itu semua adalah pengalaman tak ternilai dan tak mungkin bisa dilupakan. Semuanya aku “rekam” dalam beberapa postingan di blog ini (Segera). 


Khop kun krap. Terima kasih. Selamat membaca nantinya. :D

Berwisata Ke Kantor Polisi Bangkok!

Meski  panas menyengat, cuaca ekstrem kota Bangkok siang itu tak sedikitpun menyurutkan langkah kami untuk tetap menjalankan rencana yang sudah disusun; berburu halal food, motret dan keliling distrik Bangrak yang juga berdekatan dengan sungai Chao Phraya.  Tapi sayang, apa yang ingin kami lakukan tak semulus seperti yang direncanakan. Selasa siang pada 10 Juni 2014 lalu, sebagian besar waktu jalan-jalan kami harus “terpotong” oleh urusan dengan pihak kepolisian kota Bangkok. 

Siang itu aku harus berurusan di kantor polisi Yanawa di distrik Bang Rak, tapi bukan gara-gara tindak kriminal atau pelanggaran yang dilakukan. Ini murni karena sebuah dompet. Ya, sebuah dompet kulit warna coklat yang ku temukan dalam perjalanan bus malam Hatyai-Bangkok.

Ceritanya begini, menjelang mendekati pusat kota Bangkok, di dalam bus aku pindah posisi duduk agar mudah memotret sebagian ibukota Thailand di pagi hari dari sisi kiri bus. Apalagi saat itu, tidak banyak penumpang di dalam bus jurusan Hatyai-Bangkok, jadi dapat lebih leluasa bergerak pindah posisi tempat duduk.

Malah seorang penumpang lelaki yang menempati kursi didepan kami sudah turun sejak awal disuatu tempat sebelum perbatasan kota Bangkok.  Nah bekas kursi si penumpang ini yang aku duduki. Masih di kursi yang sama, selepas memotret aku memindahkan selimut yang sejak tadi kududuki ke kursi sebelah. Tiba-tiba sebuah dompet yang terselip diantara lipatan selimut jatuh tepat disamping kakiku. Pastilah dompet itu milik lelaki yang semalam duduk dihadapan kami.

Awalnya aku ingin menyerahkan dompet tersebut kepada pramugari bus. Namun karena sejak awal kami sudah mengalami hal  yang kurang menyenangkan dengan si pramugari, akhirnya ku urungkan niat tersebut.

Selanjutnya dompet ku masukkan kedalam saku samping celana cargo yang kupakai kala itu. Aku berpikir, ahh nanti saja kuserahkan dompet itu ke kantor polisi yang pertama kami jumpai, dimanapun itu di kota Bangkok. Atau opsi lain adalah membuka dompet setiba di terminal dan berharap ada nomor telepon yang dapat dihubungi atau mengirimkan via pos ke alamat yang tertera di ID card pemilik dompet.

Sesimple itu kah? Nah, ketika ada kesempatan membuka dompet di area terminal bus, disinilah masalah muncul. Kenapa? Uangnya terlalu sedikit ya? Bukan! Bukan itu masalahnya tapi tidak ada satupun isi dompet yang bisa kubaca. 

Aku baru sadar,  bukankah saat ini kami sedang berada di negeri gajah putih dimana hampir semua huruf didominasi oleh aksara Thai. Termasuk kartu pengenal, ATM atau apapun itu. Yang dapat dibaca cuma angka-angka. Selebihnya tentu saja buta, maksudnya buta aksara Thai. Jangankan aksara thai, menghafal huruf-huruf hijaiyah saja belum lulus. Ihiks.

Sejak awal aku tidak mau menceritakan kepada Ale, biar keadaan tak bertambah panik. Aku tak mau mengawali pagi kami di Kota Bangkok dengan debat dan diskusi atau opsi-opsi bagaimana membuat dompet itu kembali kepada si pemilik. Biar saja aku yang berfikir. Aku percaya, sejauh ada niat baik untuk mengembalikan dompet kepada pemiliknya tanpa ada niat mengurangi isi dompet, In Sya’ Allah pasti Allah menuntun aku dengan cara Nya membuat keadaan dimana dompet akan sampai ke tangan pemiliknya dan aku pun tenang dalam melakukan perjalanan.

Sewaktu keluar dari satu stasiun BTS sky line ke stasiun berikutnya atau saat berjalan kaki menuju ke beberapa destinasi wisata di kota Bangkok, aku selalu melihat ke kiri-kanan berharap ketemu kantor polisi. Tapi tetap saja yang kucari tidak ada.

Sampai akhirnya, pada saat sujud terakhir sholat zuhur di masjid Ban Oou, tiba-tiba terlintas di benakku “Kenapa tidak diberikan saja kepada Imam masjid untuk diserahkan kepada pemilik dompet?” Ehh, ketahuan deh kalau sholatnya gak khusyuk. Hahahahaaa.
Benar juga, selesai berdoa aku langsung menjumpai Imam masjid Ban Oou. Aku ceritakan tentang dompet yang kutemukan didalam bus apa adanya. Disini juga Ale baru kuberitahu.

Peran Imam masjid Ban Oou cukup besar. Ia akhirnya memfasilitasi aku bertemu dengan pihak Centre Point Hotel, sebuah hotel bintang empat yang letaknya berdampingan dengan masjid Ban Oou. Lalu salah seorang pegawai hotel ditugaskan khusus untuk mengantar kami ke kantor polisi. Sang imam meminta maaf tidak dapat ikut ke kantor polisi karena saat itu hanya ia sendiri yang menjaga masjid.

Tiba di kantor polisi Yanawa, kami disambut ramah oleh Pak Chankul Jumruschai. Ia mempersilakan kami masuk ke ruangannya. Senang sekali bisa ketemu ruangan ber-AC setelah berpanas-panas diluar. Selanjutnya aku dan pak Chankul duduk saling berhadapan. Hanya dipisah oleh meja kerjanya. Berceritalah aku padanya mengenai penemuan dompet secara kronologis. Saat kuserahkan dompet, ia juga meminta passport ku. Lalu passport berpindah tangan kepada anak buah pak Chankul yang sedang menyiapkan berita acara. 

Aku pikir, urusan aksara Thai sudah berakhir ternyata saat diserahkan lembar berita acara oleh anak buah pak Chankul untuk ditandatangani, lagi-lagi seluruh isi kertas didominasi huruf-huruf Thai. Yang dapat dibaca cuma nama ku dan angka-angka. Ooh tidaaaaaakkkkkkkkkk. Tapi ya sudahlah, tanda tangan saja dulu, yang penting dompet dapat segera sampai kepada pemiliknya. 

Oh ya, ada yang bisa tolong terjemahkan isi berita acara yang ada difoto samping kanan ini? Ah sudahlah, gak penting juga.

Yaahhhh....meski hari itu jalan-jalan kami harus berakhir di kantor Polisi Yanawa di distrik Bang Rak, sehingga membatalkan kunjungan ke beberapa destinasi di kawasan Silom tapi aku masih tetap berfikir positif. Bukankah tidak semua orang dapat mengalami seperti apa yang telah kami alami, “Berwisata Ke Kantor Polisi Bangkok”. Ahaa.