Kamis, 13 Februari 2014

Pulau Bunta, Catatan Dari Keinginan Yang Terpendam Lama #2


"Perjalanan dengan tujuan kenikmatan duniawi, hanya menyenangkan sesaat tapi akan menghancurkan mu selamanya. Jika sebuah perjalanan dilandasi oleh kekaguman terhadap Sang Pencipta, maka kau akan menemukan Tuhan mu selamanya." Arie Y.


Sebelum berbagi cerita kegiatan di hari kedua, ada baiknya mengingat-ingat kembali kejadian di hari pertama, mengarungi lepas pantai Ujung Pancu dan menjauhi sisi kanan Pulau Tuan selanjutnya melewati selat pendek antara Pulau Lumpat dan Ujung Pancu hingga melintas Pulo Batee sampai akhirnya tiba di Pulau Bunta. Ombak benar-benar tak dapat diprediksi.  Seperti yang kami alami. Baru beberapa menit meninggalkan dermaga dan lepas dari ujung kanal, ombak dihadapan sudah berkejar-kejaran menghadang laju boat mesin 23 PK.  Semakin ketengah semakin tinggi. Dalam keadaan sedikit panik, beberapa peserta yang sejak awal belum menggunakan baju pelampung, langsung meraih dan memakainya.

Keadaan bertambah tegang ketika tiba-tiba pendamping juru mudi berkata “Kelihatannya boat berat kedepan, ayo sebagian penumpang pindah ketengah.” Huuaaaaaaa…pengen nangis! Soalnya posisi akulah yang harus pindah ke tengah. Bayangkan, dalam keadaan kapal oleng ke kiri dan kanan disuruh berdiri untuk pindah posisi, pastilah seperti pemain akrobat yang harus menjaga keseimbangan jika tak ingin tercebur ke laut. Pada saat itu juga aku harus memikirkan bagaimana menjaga tas berisi kamera dan laptop yang kuselempangkan tidak basah akibat hempasan air laut.

Alhamdulillah walau dengan susah payah, kini posisi ku benar-benar berada di tengah bersama pendamping juru mudi. Didepan kami duduk; Pak Sidik, Bahrijal dan Ale. Sementara di posisi belakang ada Ismul, Mirza dan Yusri ditambah juru mudi boat mesin.

Jujur, ini adalah masa-masa penuh kecemasan dalam perjalanan menuju Pulau Bunta. Saat itu, semua peserta tampak diam. Hening. Hanya suara ombak yang bergemuruh ditambah raungan mesin boat yang memekakkan telinga. Dan aku percaya bahwa mereka semuanya sedang berdoa. Masuk diakal ya, ketika sedang berada dibawah ancaman, manusia pasti (kembali) mengingat Sang Pencipta. Amat menegangkan. Heheheee. 

Kira-kira 20 menit menjelang tiba, aku menoleh ke belakang. Apaaaaaa?????? Astagfirullah! Tiga orang peserta yang berada dibelakang sedang tidur pulas dengan manisnya. Ohhhhhhh…… penumpang yang aneh.


Sabtu, 25 Januari 2014
Menjelajah Sisi Barat Pulau

Sabtu pagi selepas sarapan, waktunya berkumpul dan selanjutnya rombongan dibagi kedalam 2 grup. Adalah sebuah pilihan yang sulit menentukan jalur mana yang akan ditempuh, menyusuri sisi barat atau timur pulau. Karena keduanya sama menarik.

Grup 1 akan menyusuri sisi timur dan selatan melewati Ujung Bada dengan jarak tempuh kurang dari 4 km, sedangkan grup 2 mengarah ke sisi barat pulau melewati pelabuhan dengan jarak tempuh yang lebih pendek yaitu sekitar 2,5 km.  Kedua grup sepakat untuk bertemu di lokasi mercusuar yang terletak di Ujung Mane.

Akhirnya, menilai dari sudut pandang fotografi, aku memutuskan menjadi bagian dari grup 2 yang terdiri dari Bahrijal, Ale, Satria, Ismul, Mirza dan Mudi. Dengan menyusuri sisi barat, otomatis sinar matahari pagi akan berada dibelakangku dan menjadi sumber cahaya kearah laut. Tentu saja hal tersebut baik untuk mendukung pencahayaan dari sisi fotografi.

Sebelum kedua grup berpisah mengikuti jalur masing-masing, Pak Sidik berulangkali mengingatkan untuk mencatat dan mendokumentasikan apa saja yang dilihat selama dalam perjalanan. 

Nah, selama trekking ternyata banyak hal-hal indah yang kami temui. Foto-foto dibawah ini semoga mampu menjelaskan sebagian keindahan dari Pulau Bunta terutama buat yang belum pernah kemari.






Selama perjalanan di sisi barat, grup kami diberi kesempatan melihat pecahan-pecahan karang merah yang terdampar di pesisir pantai akibat hempasan gelombang pasang. Kawan-kawan di grup 1 ternyata lebih beruntung, menurut penuturan mereka,  sisi timur Pulau Bunta memiliki pemandangan yang luar biasa indah. Mereka menyaksikan sekumpulan karang merah terhampar sekian puluh meter tak jauh dari garis pantai. Pagi hari saat air surut adalah waktu yang tepat untuk bisa melihat hamparan karang merah tersebut. 



Menjelang akhir perjalanan disaat jalur semakin menanjak, kami bertemu 2 orang penjaga mercusuar yang baru saja selesai mancing, Pak Basuki dan Bang David. Mereka jugalah yang menuntun kami ke lokasi mercusuar. Sebenarnya masih ada  satu orang lagi yang mereka panggil Pak Komandan. Pak Basuki dan Bang David adalah warga propinsi Sumatera Utara, mereka baru saja ditugaskan di Pulau Bunta untuk beberapa bulan sebelum dipindahkan ke lokasi lain nantinya.

Banyak sekali cerita yang mereka ungkapkan selama dalam perjalanan maupun saat tiba di pos penjagaan mercusuar.  Tentang rasa rindu yang harus dipendam selama berminggu-minggu terhadap keluarga, mengenai distribusi makanan yang kadang terkendala akibat cuaca ekstrim atau sulitnya komunikasi melalui telfon genggam dengan dunia luar. Nah, Kalau sudah begini, aku cuma bisa bilang “Yang sabar ya pak.” :)

Waktu sudah lewat tengah hari ketika kami tiba di titik finish yang disepakati.  Beberapa teman sudah duduk kelelahan di lantai ruang tamu rumah Bang David. Rasa haus tak terbendung lagi. Begitu masuk ke ruang makan, semua orang –kecuali Bang David, si penghuni rumah- tampak seperti kesurupan begitu melihat dispenser. Berlomba-lomba menghabiskan bergelas-gelas air dingin. Oh Tuhan, kami seperti menemukan oase ditengah padang pasir tandus, halahhhh mulai deh lebay! 

Tak lama Mudi dan Satria terkapar pasrah di lantai. Di rumah ini, naluri chef Bahrijal ikut bermain, juru masak kami selama Coastal Retreat ini sibuk mondar-mandir di dapur dan yang terjadi setelah itu adalah  15 bungkus mie instant stock dapur bang David direlakan untuk dimasak sebagai menu makan siang kami. Ale, Mudi dan Mirza menuju lokasi tebing menunggu teman-teman grup 2 tiba. Sedangkan aku sibuk mencari posisi untuk mendapatkan sinyal hp. Bikin status dulu. :)

Menjelang setengah tiga siang, grup 1 (Pak Sidik, Pak Iben, Musa, Yusri,  Faisal, Alfandias, Suheil dan Adit) akhirnya dengan penuh perjuangan tiba di lokasi mercusuar. Wajar kalau mereka paling akhir tiba. Selain jalur trekking yang lebih panjang mereka juga harus melakukan pendakian untuk mencapai area mercusuar. Wajah-wajah mereka tak dapat menutupi rasa lelah itu.


Perjalanan ini memang begitu melelahkan tapi semuanya terbayar lunas oleh merah dan kuning karang-karang yang ada di Pulau Bunta. Biru dan hijau tosca permukaan lautnya, hijau tua daun-daun kelapa tinggi langsing yang tumbuh menjulang menggapai langit. Warna-warna gelap batuan sedimen yang tersebar disekeliling pulau. Cahaya yang menelusup masuk diantara rimbunnya daun pohon ketapang, tempat dimana kami mendirikan tenda dan melakukan banyak aktifitas dibawahnya. Alam bawah lautnya yang luar biasa indah.  Dan ini mengajarkan kepada kami bagaimana tetap menjaga keberlangsungan hidup apapun yang ada di pulau ini.

Dan selalu ada catatan penting dari setiap perjalanan. Tentang bagaimana setiap orang mampu mengesampingkan ego. Memahami kesulitan . Menawarkan kebaikan. Melatih empati terhadap teman bahkan yang baru dikenal yang sebelumnya tak pernah berinteraksi sama sekali. Seperti yang kurasakan dalam perjalanan kali ini.

Sebelum kembali ke tenda, rombongan menyempatkan diri berfoto bersama di depan rumah petugas mercusuar.

Terima kasih untuk kalian semua. (y)

Selasa, 11 Februari 2014

Pulau Bunta, Catatan Dari Keinginan Yang Terpendam Lama #1


"Kalau kau menginginkan sesuatu sepenuh hatimu, saat itulah kau berada amat sangat dekat dengan jiwa dunia. Dan ini selalu merupakan daya positif" dikutip dari novel The Alchemist karya Paulo Coelho.


Sudah lama aku mendengar cerita tentang eksotisme satu pulau kecil dalam wilayah  kecamatan Peukan Bada kabupaten Aceh Besar. Bunta namanya. Setiap kali melakukan penyeberangan ke Pulau Weh, dari kejauhan aku bisa melihat puncak Pulau Bunta samar-samar bersembunyi dibalik Pulo Batee.

Aku baru benar-benar menyaksikan Pulau Bunta secara utuh, meski masih dari jauh saat bermalam bersama kawan-kawan di Lhok Mata Ie pada Januari 2013.  Saat itu matahari tenggelam dibalik pulau sehingga siluet Pulau Bunta tampak detil dengan pucuk-pucuk pohon kelapa yang tumbuh menjulang menghiasi pulau.

Dan Bunta pun semakin dekat saja di pandangan saat bersama teman-teman dari Jakarta melakukan penyeberangan ke Pulo Batee pada Juni 2013. Saat itu, Bunta yang berada disebelah kiri kami tampak utuh di depan mata. Semakin jelas, semakin dekat. Meski tetap belum bisa meraihnya. Tapi saat itu, aku terus berdoa agar Tuhan memudahkan langkahku mengunjungi pulau itu suatu saat nanti.

Dan aku percaya bahwa cepat atau lambat Allah pasti memudahkan jalan bagi siapa saja yang memiliki niat baik untuk mengagumi keindahan Nya. Terbukti pada Januari tahun ini –butuh waktu satu tahun sejak pertama kali melihat Pulau Bunta secara utuh dari Lhok Mata Ie- diberi kesempatan mengunjungi pulau tersebut.

Tentu saja Tuhan mengirimkan perantara untuk mewujudkan keinginan ku mengunjungi Bunta. Mereka adalah dosen-dosen Teknik Universitas Syiah Kuala (USK), termasuk sejumlah mahasiswanya. Atas ajakan mereka dalam program “Pulau Bunta Coastal Retreat” akhirnya aku benar-benar dapat menikmati hampir setiap sudut Pulau seluas 125 hektar bersama 14 teman lainnya.
Dibelakang kami tampak sebagian Pulo Batee disebelah kanan dan Pulau Nasi berada di kiri

Jum’at, 24 Januari 2014
Meninggalkan Gampong Lam Teungoh

Selepas sholat jum’at beberapa peserta Coastal Retreat sudah berkumpul di gedung Tsunami and Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC). Selanjutnya seluruh peserta yang berjumlah 15 orang -terdiri atas 2 dosen Fakultas Teknik USK, 11 mahasiswa ditambah aku dan seorang teman dari Medan- diberangkatkan ke Gampong Lam Teungoh. Rombongan ini selanjutnya dibagi kedalam 2 grup, masing-masing terdiri atas 7 dan 8 orang. Disana sudah ada 2 boat mesin siap mengantar kami menuju Pulau Bunta.

Rombongan meninggalkan dermaga kecil Gampong Lam Teungoh sebagai start point pada pukul empat petang. Dalam grup kami selain 7 peserta Coastal Retreat Program, boat yang aku tumpangi ditambah juru mudi dan  pendampingnya. Total ada 9 orang. Hampir semua dilengkapi baju pelampung.


Butuh waktu maksimal 60 menit mencapai pulau ini, namun 20 menit pertama adalah waktu yang menegangkan saat boat menari-nari diatas gelombang tinggi.   Sesekali boat memecah ombak lalu bagian depan menukik kepermukaan air laut sebelum naik lagi mengikuti irama gelombang.

Tepat pukul lima boat yang kami tumpangi mendarat di pantai berpasir putih sebagai gerbang awal eksplorasi pulau yang dahulunya pernah didiami para penderita kusta.

Meski pulau ini memiliki satu dermaga namun karena posisi permukaan dermaga lebih tinggi dari permukaan air laut bahkan dalam keadaan air pasang sekalipun, otomatis kehadirannya tampak sebagai pemanis saja. Kecuali untuk menjemur kopra dan salah satu spot foto yang menarik, selebihnya dermaga ini tak berfungsi sama sekali. Karena itu jika mendarat di Pulau Bunta, maka bersiaplah basah separuh badan terutama saat air pasang.

Menjelang sore kami memilih lokasi dibawah pohon ketapang tak jauh dari dermaga sebagai tempat mendirikan tenda untuk bermalam. Malam pertama di pulau ini, ditutup dengan presentasi dari 2 dosen Fakultas Teknik USK mengenai program Coastal Retreat dan Pulau Bunta dilihat dari sudut pandang geologi.  

Dan tentu saja, bermalam di Pulau Bunta adalah tidur berteman jutaan bintang di langit malam serta deburan ombak dan desiran angin. ohhhhh....nikmatnya. 



(Apa saja yang dilakukan pada hari kedua? apa saja yang kami lihat sepanjang perjalanan? Simak bahagian kedua tulisan mengenai Pulau Bunta.)

Kamis, 23 Januari 2014

Bright Sky, Deep Blue Sea Before Rainy Days

HANGIN' AROUND, NOTHING TO DO BUT FROWN
RAINY DAYS AND MONDAYS ALWAYS GET ME DOWN

Jadi ingat lirik lagu "Rainy Days and Mondays"nya The Carpenters
pas rombongan kita tertahan di Pulo Batee 
akibat angin kencang dan hujan lebat di hari minggu

Wajah Klik Deddyklik yang cemberut (frown) di hari senin
mungkin lebih tepat disebut "Cemas" 
karena gak bisa balik ke Jakarta
Belum lagi tiket pesawat yang "hangus"
Andy Muzany Hamud akhirnya ikut-ikutan resah, merasa bersalah
Padahal kalo dipikir-pikir, semuanya pada bolos kerja di hari senin itu.
Tapi kok yg lainnya Yuni Olive Nursia Simanjuntak Anton Chandra pada happy-happy aja ya?
Apalagi dek gam Laimi Jempa , senang banget dia dekat ama cewek2
hahahaaaaa

Alhamdulillah.....dan akhirnya Tuhan mengirimkan Sabar dan Taufiq di hari minggu, untuk dapat menikmati ikan segar tangkapan mereka
dan juga gulai ikan yang lezat.
Semoga mie instant yg kita makan, sudah diganti yg baru :)

Karena izin NYA juga, Pak Hasri menjemput rombongan kita usai badai
Dalam keadaan langit masih mendung
hujan belum sepenuhnya reda
Ombak masih bergulung tinggi
yang sempat menghantam kapal dan menjatuhkanNurbaiti Hariri

Perjalanan melintas gelombang tinggi
menembus hujan, merasakan angin kencang yang dilalui
dengan kecemasan (terbukti diatas boat, semuanya hening.
Diam. Tak berkata-kata)
Alhamdulillah, dapat dilalui dengan selamat sampai tiba kembali di Ulee Lheue.

Suasana badai hari itu, pastilah tak terekam dalam kamera
Namun semuanya utuh ada di memori kita semua
Menjadi kenangan dalam hidup, yang mungkin tak terlupakan









Berikut, foto-foto keindahan Pulo Batee saat cuaca bersahabat sebelum datangnya badai.