Senin, 02 Desember 2013

5 Jejak Aceh di Pulau Pinang (Bagian 2)

#4. Teuku Nyak Puteh dan Seniman Besar Malaysia, P. Ramlee
Tidak hanya pada masa Tengku Syed Hussain Al-Idid saja kejayaan masyarakat Aceh berlangsung di Pulau Pinang. Selepas meninggal beliau, kawasan Aceh ini terus berkembang. Generasi Aceh selanjutnya yang sukses di Penang pada awal abad 20, salah satunya adalah Teuku Nyak Puteh. Lelaki asal Lhokseumawe, Aceh ini mengawani wanita lokal,  Che Mah Hussein pada tahun 1925.   4 tahun kemudian, tepatnya 22 Maret 1929 lahirlah Teuku Zakaria bin Teuku Nyak Puteh atau yang lebih populer dengan nama P. Ramlee (Puteh Ramlee).  Siapa sangka, lelaki keturunan Aceh ini menjadi tokoh seni berpengaruh –Aktor, penyanyi, composer sekaligus sutradara film- di Malaysia antara 1948 hingga wafatnya di tahun 1973.

Pustaka Peringatan P. Ramlee terletak di Jalan Dedap, Taman P. Ramlee-Kuala Lumpur.
Di salah satu ruangannya, pengunjung dapat menikmati film-film karya seniman agung ini.

Hingga kini, rumah kayu yang dibangun tahun 1926 oleh orang tua beliau masih dijaga dengan baik. Rumah panggung kayu beratap daun nipah terletak di jalan P. Ramlee. Nama jalan tersebut ditabalkan oleh Pemerintah Malaysia untuk mengenang jasa beliau dalam bidang seni.

#5. Pantai Acheh

Ada satu nama yang sering disebut-sebut saat berada dalam kawasan Taman Negara Pulau Pinang (Penang National Park) yaitu Hutan Lindung Pantai Acheh (Pantai Acheh Forest Reserve). Tidak ada yang tau pasti kenapa disebut Pantai Acheh. Tapi sebuah story board “Jalan Penarikan” yang bisa dijumpai saat melakukan trekking kearah Pantai Kerachut menyebutkan bahwa, kayu-kayu dilokasi ini dulunya sering diambil untuk kebutuhan pembuatan rumah dan kapal nelayan. Permintaannya semakin meningkat ketika terjadi migrasi orang-orang Aceh ke Penang sekitar 1940-an.

Berikut, tulisan versi bahasa melayu pada story board “Jalan Penarikan”;
Disekitar tahun 1940-an, masyarakat pada masa itu menggunakan kayu dari kawasan ini untuk membina rumah dan bot. Keperluan pokok balak pada waktu itu semakin tinggi apabila berlaku menghijrahkan penduduk Acheh dari Indonesia ke Pulau Pinang.

Lurah yang anda lihat disepanjang denai ini bukan terhasil daripada aliran air semula jadi. Tetapi ia adalah lorong yang terbentuk akibat kerja-kerja membawa keluar kayu balak ke kawasan lapang menggunakan kerbau.

Dapatkah anda bayangkan berapa ramai tenaga manusia diperlukan untuk menarik keluar sebatang pokok yang besar sekiranya kerbau tidak digunakan?

Dan versi bahasa Inggris;
“Pulling Route”
In the 1940’s, the community used wood from this area to build houses as well as to construct boats. The essential need of timber trees has increased has batches of Acheh community migrated from Indonesia to Pulau Pinang.

The gully or ditch that you are witnessing next to this trail was not created out of natural running water. As a matter of fact, it was formed as a buffaloes were used at that time to drag timbers to an open area.


Can you image how many people are needed to pull one giant timber without any help from the buffaloes?

Story board jalan penarikan
























Ada 3 jalur Rapid Penang yang memudahkan pengunjung menuju Taman Negara Pulau Pinang. Pertama, jika berangkat dari Bayan Lepas Airport, naik Rapid Penang nomor 401E lalu turun di stasiun bus Balik Pulau. Selanjutnya naik nomor 501 dan turun di stasiun bus terakhir yang berdekatan dengan Taman Negara yaitu stasiun Tanjung Bungah. 

Jalur kedua, jika berada di Weld Quay silakan naik Rapid Penang nomor 101. Pilihan ketiga, pengunjung yang berada di KOMTAR dapat menaiki bus nomor 10 langsung ke stasiun Tanjung Bungah. Terakhir, berjalan kaki kurang dari 300 meter ke pintu masuk Taman Negara untuk trekking sekaligus memahami sepenggal sejarah terkait orang-orang Aceh di Pulau Pinang. (y)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar