Sudah
terlalu banyak cerita tentang keindahan Langee dari kawan-kawan yang pernah
mengunjunginya. Tentang bentangan pasir putih dengan garis pantai yang panjang.
Tentang “air mancur” alami yang ditunggu saat ombak datang. Sekeping padang
rumput dinaungi oleh beragam vegetasi pantai yang indah. Rawa-rawa yang muncul
saat air pasang. Bunker jepang yang berkamuflase diantara kontur bukit. Kumpulan
batu-batu sedimen raksasa dengan susunan berlapis. Juga ceruk-ceruk di kaki
bukit yang membentuk gua-gua sebagai shelter bagi pengunjung.
Berada di kecamatan Lhok Nga, pantai
Langee salah satu dari
beberapa surga tersembunyi yang dimiliki kabupaten Aceh Besar. Meski memiliki akses yang terbilang
sulit tapi ia cukup popular dikalangan pemancing. Hanya butuh waktu sekitar 1 jam trekking untuk mencapai pantai berpasir putih ini.
Kalau
ditarik garis yang dimulai dari kawasan Ujung Pancu menyusuri pesisir pantai yang berhadapan dengan Pulau Batee hingga
ke Lampu’uk maka Langee adalah pantai
ketiga yang kita jumpai. Kira-kira urutannya seperti ini; Lhok Mata Ie, Lhok
Keutapang dan Pantai Langee lalu pantai Momong dan terakhir Eumpe Neulu (Lokasi
Joel’s Bungalow) di Lampu’uk.
Jika terus ditarik kebawah, maka kita akan ketemu dengan pantai-pantai yang sudah dikomersilkan seperti Babah Dua, Pulau Kapuk, Lhok Nga dan Taman Tepi Laut.
Kali
ini saya tidak mengulas Langee secara detil seperti pada postingan sebelumnya saat
saya menulis tentang Lhok Mata Ie dan pantai Momong, karena foto-foto diatas sudah
cukup menggambarkan betapa Langee itu indah.
Tapi
sayang, keindahan itu tidak dibarengi oleh kesadaran para pengunjung untuk
membawa kembali sampah plastik dari botol air mineral atau kemasan makanan yang
menjadi bekal mereka selama trekking ke Langee.
Sangat
miris ketika menemukan sampah plastik di jalur trekking di tengah hutan, diatas bukit yang tidak banyak dilalui manusia. Begitu mudah kita melihat tebaran sampah plastik pada jalur menurun selepas bukit pertama yang dilewati. Sebenarnya seberapa berat sih
membawa kembali kemasan plastik yang
sudah tidak berisi?
Saya
kembali teringat setahun lalu ketika pertama kali ke Lhok Mata Ie. Hal pertama
yang rombongan kami lakukan sebelum mendirikan tenda adalah mengumpulkan sampah
dipinggir pantai yang sering dijadikan lokasi bermalam. Selanjutnya, pilihan
terbaik dari yang terburuk karena tidak ada pilihan lain adalah
membakarnya. Daripada sampah-sampah tersebut kembali bertebaran dibawa
angin atau gelombang pasang.
Padahal diluar sana ada begitu banyak kawasan wisata yang tidak seindah pantai-pantai di Aceh tapi karena lokasi tersebut sangat menjaga kebersihan, siapapun yang pernah mengunjunginya suatu saat pasti akan muncul rasa kangen untuk kembali lagi.
Padahal diluar sana ada begitu banyak kawasan wisata yang tidak seindah pantai-pantai di Aceh tapi karena lokasi tersebut sangat menjaga kebersihan, siapapun yang pernah mengunjunginya suatu saat pasti akan muncul rasa kangen untuk kembali lagi.
Saya
yakin, pengunjung terbanyak yang melakukan trekking ke lokasi ini adalah
anak-anak muda, utamanya dari Banda Aceh.
Anak-anak muda ini seharusnya memiliki kesadaran lebih terhadap kebersihan lingkungan. Yang pada buang sampah disini sadar gak ya? Kalau kita mati, tidak butuh waktu lama jasad seseorang menyatu dengan tanah. Sementara, sampah plastik yang anda buang selama hidup didunia butuh waktu ratusan tahun untuk terurai.
Baiklah,
saya tidak mengatakan semua orang yang kesini membuang kemasan plastik sembarangan. Saya percaya, masih banyak orang baik yang peduli terhadap
kebersihan dimanapun mereka berada. Namun dari apa yang saya jumpai pada saat
turunan bukit setelah tempat istirahat pertama, sudah menunjukkan tipikal
orang-orang seperti apa yang dominan mengunjungi Langee. Ini masalah perilaku yang bisa dirubah kok. Yang penting punya kesadaran "malu meninggalkan jejak sampah disembarang tempat".
Tidak
ingin menjadi bagian dari sikap masabodoh orang-orang berpendidikan yang
membuang sampah di jalur trekking menuju Langee, hari itu sampah yang saya hasilkan dibawa kembali ke
Banda Aceh. Bukan berarti dengan
melakukan hal ini derajat saya di hadapan Tuhan langsung setara malaikat. Tapi
ini adalah hal sepele yang bisa dilakukan semua orang normal. Hal kecil yang
harus dibiasakan. Meski pada akhirnya pilihan itu anda yang putuskan. Mau atau
tidak “membawa pulang sampah yang anda hasilkan”
Lagipula tidak fair kan? Belanja makanan di Banda Aceh trus sampahnya dibuang di Aceh Besar. Eh, sembarang pula buangnya. *Mental.
Lagipula tidak fair kan? Belanja makanan di Banda Aceh trus sampahnya dibuang di Aceh Besar. Eh, sembarang pula buangnya. *Mental.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar